
Seri yang satu ini mengandalkan dual-mode sebagai kelebihannya. Karenanya, di ponsel ini tersedia dua slot kartu; bertanda slot A untuk SIM (GSM) di kiri dan slot B untuk UIM (CDMA) di kanan. Perhatikan: mulut slot SIM agak tumpang-tindih dengan slot UIM. Jadi, ketika memasang kartu, lebih dulu pasang yang UIM, berikutnya baru yang SIM. Soalnya, sebagian bodi kartu SIM akan menimpa slot UIM.
Kedua nomor sama-sama aktif. Untuk bertelepon, kita tinggal pencet nomor yang dituju seperti biasa dari keypad, lalu pencet tombol bertulisan G untuk GSM atau C untuk CDMA. Bila menelepon dari data Phone Book, pilih saja nama atau nomornya, lalu langsung pencet tombol G atau C. Sama saja ketika memakai keypad virtual; ketuk nomornya, lalu ketuk G untuk GSM atau C untuk CDMA. Di keypad virtual ada pula tombol pintas ke Phone Book.
Soal kapasitas memori ponsel, kita tak perlu takut kekurangan. Di atas slot A tadi terdapat slot microSD. Hanya, letak slot kartu memori yang ngumpet di balik baterai cukup bikin repot Sinyal yang hobi cabut-pasang kartu memori. Micxon sendiri menyediakan microSD 512MB dalam paket pembelian.
Alternatif lain, kita bisa gunakan kabel data; port data yang sekaligus port charger itu ada di kiri bodi. Ketika terhubung ke PC via kabel data, di ponsel akan muncul pilihan USB Config berupa Mass Storage dan Webcam. Bila kita pilih Mass Storage, ponsel akan otomatis mati dan dibaca PC sebagai storage. Sebaliknya, bila kita pilih Webcam, PC akan otomatis menginstal driver-nya. Seperti biasa, batere otomatis diisi ulang selama kabel terhubung ke PC.
Sepintas, penampilan ponsel ini mengingatkan Sinyal pada Nokia N82 yang lebih dulu hadir di pasar. Tanda fisik yang paling gampang untuk membedakan keduanya adalah adanya deretan icon dalam layar Micxon sebelah bawah. Seperti biasa, casing plastik mengilap mengoleksi bekas jemari kita. Kombinasi warna hitam dan peraknya sendiri terlihat klasik tapi manis.
Untuk menyalakan ponsel, cukup pencet-tahan End Call yang sekaligus merupakan tombol On/Off. Nyaris semua aplikasi tetap bisa diakses meski tak satu pun kartu terpasang. Jadi kita masih bisa dengar musik, nonton video, sampai main game di ponsel.
Layar sentuh terlihat lega, meski sisi bawah dalam layar dikuasai deretan icon permanen. Icon-icon tersebut merupakan pintasan ke menu utama (gambar rumah), Messages (amplop), Games (orang), Phone Book (buku terbuka), dan Call History (telepon). Stylus-nya tersembunyi dalam lubang di pojok paling bawah di kanan bodi. Saat ponsel menyala, persis di atas deretan icon tersebut terdapat icon bergambar telepon di kiri yang akan membuka keypad virtual, tulisan Menu di tengah untuk menu utama, dan tulisan Name di kanan untuk Phone Book.
Keypad tersusun 1-2-3-*, 4-5-6-0, dan 7-8-9-#; cukup mudah dipencet meski ukurannya imut. Tak terlihat backlight. Menghindari pencetan tak sengaja, kita bisa mengunci keypad secara manual dengan memencet menu kanan (Name/Unlock), lalu langsung pencet tombol #. Cara yang sama juga membuka proteksi. Bila tak mau repot, penguncian secara otomatis bisa disetel dari System>Settings>Phone Security>Auto Keypad Lock, dan pilih None, 5 sec, 15 sec, 30 sec, 1 min, atau 5 min. Hanya memencet-tahan tombol # akan mengaktifkan Silent.
Tombol navigasi 4-arah juga menjadi pintasan. Secara default, navigasi atas membuka Audio Player, bawah ke Lock/Unlock Phone, kiri ke Write Message, dan kanan ke User Profiles. Semuanya masih bisa disetel ulang dari System>Settings>Phone Setup>Dedicated Key. Tombol tengah navigasi membuka menu utama.
Di sisi atas layar terlihat aksen kamera dan lampu; ini tak bisa digunakan. Untuk jeprat-jepret, hanya bisa pakai kamera 2MP (plus cermin) di bagian belakang bodi. Tak ada tombol khusus kamera; tapi kita masih bisa setel sendiri dengan mengubah pintasan salah satu navigasi. Pun tak ada menu pintas untuk pindah dari moda foto ke moda video. Keduanya disediakan terpisah, dan bisa diakses dari AV Zone. Setting-nya sendiri lumayan banyak; tinggal pintar-pintarnya kita mengombinasi setting untuk mendapatkan hasil maksimal.
(sumber: Sinyal/Septyarini)
DIarsipkan di bawah: review | Ditandai: bursa, gorontalo, hp, M88, Micxon